DIRGAHAYU KOTA SURABAYA 2016 - Terus Kobarkan Semangat Memberantas Korupsi, Terorisme dan Penyalahgunaan Narkoba

Divonis Mati, Susi Terus Menangis

Setelah vonis mati terhadap Aiptu Abdul Latief dan Indri Rahmawati, Kini Lembaga peradilan juga menjatuhkan vonis mati terhadap Susi yang jadi bandar narkoba.

Pemkot Matangkan Layanan Berbasis Mobile App

Pemkot Surabaya terus mematangkan konsep pengurusan dokumen kependudukan dan perizinan via aplikasi mobile

Wiyang "Merengek" Minta Keringanan Hukuman

Wiyang Lautner, tersangka kasus kecelakaan lalu lintas meminta keringan hukum, tetapi Jaksa Penuntut Umum menyatakan tetap pada tuntutan.

Pangdam Jaya : Prajurit Terlibat Narkoba Dipecat

Oknum prajurit yang terlibat Narkoba akan mendapatkan tindakan tegas sesuai hukum berlaku serta sangsi tambahan berupa pemecatan.

Satu Lagi Tersangka Korupsi KPU Jatim Ditahan

Satu lagi tersangka dugaan korupsi pengadaan dan distribusi logistic Pilpres dan Pileg 2014 pada KPU Jatim dijebloskan bui.

Wali Kota Terima Protes Wali Murid SMA/SMK

Ratusan perwakilan wali murid menyampaikan kekhawatiran pengambilalihan kewenangan pengelolaan SMA dan SMK oleh Pemerintah Provinsi.

KPPU Selidiki Monopoli Produk PT Telkom

KPPU akan melakukan penyelidikan terhadap layanan triple play indiehome yang sedang gencar dipromosikan PT Telkom.

La Nyalla Resmi Tersangka Korupsi Saham IPO

Kejati Jatim resmi menetapkan Ketua Kadin Jatim, La Nyalla Mattaliti sebagai tersangka kasus korupsi pembelian saham IPO Bank Jatim senilai Rp 5 miliar.

Anggota Kodim 0508/Depok Tes Urine

Untuk mengantipasi penyalahgunaan narkoba tes urine dilakukan mendadak, semua ikut tes urine termasuk perwira dan PNS.

Kamis, 25 Agustus 2016

Ngaku Salah, Pencuri Emas Senilai Rp. 500 Juta Tetap Dihukum Berat



KABARPROGRESIF.COM : (Surabaya) Pengakuan bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya tak membuat majelis hakim yang diketuai Pudjo Saksono menjadi iba dan mengurangi hukuman bagi Irwan Nugroho, terdakwa kasus pencurian emas seberat 1,2 kg milik CV Bintang Emas.

Telah menikmati hasil pencurian perhiasan emas putih  sebesar Rp 500 juta, menjadi faktor pemberat bagi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan vonis.

"Saudara dihukum sama dengan tuntutan jaksa, 2 tahun penjara, karena saudara sudah menikmati hasil pencuriannya. Silahkan kalau saudara mau melakukan upaya hukum,"ucap Hakim Pudjo pada terdakwa usai membacakan amar putusan yang dibacakan diruang sidang Kartika PN Surabaya, Kamis (25/8).

Vonis itu pun di sambut terdakwa Irwan, Warga Kaligawe Gayamsari Semarang itu langsung menyatakan menerima dan selanjutnya menandatangani berita acara putusan.

"Saya terima Pak Hakim,"ucap terdakwa.

Serupa juga dilakukan JPU Anggraeni dari Kejari Surabaya.

"Kami juga terima putusan ini,"ucapnya pada majelis hakim.

Dijelaskan dalam dakwaan, pencurian perhiasan emas putih tersebut terjadi pada 13 Februari 2016 lalu. Saat itu sekira pukul 20.00 atau 8 malam, terdakwa sedang berada di dalam mess (rumah tinggal) karyawan CV Bintang Sakti di Jalan Dharmahusada Permai.

Dalam kondisi sepi, terdakwa mengambil kunci brankas dan menggasak semua perhiasan emas yang ada didalamnya.

Selanjutnya, terdakwa meninggalkan mess itu dan berpamitan ke satpam untuk pulang kampung. Nah saat itulah, hasil perncurian itu di jual terdakwa secara bertahap, hingga akhirnya dia berhasil ditangkap Polisi. (Komang)

Surabaya Bidik Tuan Rumah Kejuaraan Menembak Dunia pada 2020



KABARPROGRESIF.COM : (Surabaya) Kota Surabaya kerap dipercaya menjadi tuan rumah event berskala internasional. Setelah sebelumnya Prepcom 3 for Habitat III, kali ini Kota Pahlawan kembali ditunjuk sebagai venue AustralAsia Handgun Championship (AAHC) 2016.

Kejuaraan menembak level 4 atau dengan kata lain lingkup antar benua itu akan digelar mulai 29 Agustus hingga 2 September mendatang di Bumi Marinir Karang Pilang. Adapun acara pembukaan akan dilaksanakan di Taman Surya pada Minggu (28/8) sore.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyambut baik terpilihnya Surabaya sebagai tuan rumah AAHC 2016. Pasalnya, Risma -sapaan Tri Rismaharini- memang punya tekad menjadikan Surabaya sebagai kota dunia. Salah satu indikator kota dunia adalah kota tersebut dipercaya menghelat event skala internasional. Seiring banyaknya event internasional yang ‘mampir’ ke Surabaya, otomatis juga membuat kota berlambang suro dan boyo ini lebih dikenal di kancah global.

Alumnus ITS itu mengaku bahwa sasaran Surabaya bukan hanya menjadi tuan rumah pertemuan formal saja, melainkan juga event-event olahraga yang mungkin kurang diperhatikan di kota lain. Dia berharap, kepercayaan dunia menembak internasional kepada Surabaya terus berlanjut. Sebab, pada 2020 nanti akan ada kejuaraan menembak dunia yang prestisenya lebih tinggi.

“Kalau kita berhasil di level 4 (antar-benua) ini, kita akan punya peluang untuk jadi tuan rumah di kejuaraan menembak level 5 (tingkat dunia). Tentunya jumlah pesertanya akan jauh lebih banyak lagi,” kata Risma saat jumpa pers di balai kota, Kamis (25/8).

Dikonfirmasi tentang target wali kota menjadi tuan rumah kejuaraan menembak dunia pada 2020, Presiden Internasional Practical Shooting Confederation (IPSC) Nick Alexakos mengatakan bahwa Surabaya punya kans sangat bagus. Menurut Nick, salah satu kekuatan Surabaya, di samping infrastruktur, juga keramahan warganya.

“Saya sangat terkesan dengan keramahan publik Surabaya. Hal itu saya rasakan sejak mendarat di bandara hingga ke hotel. Semua orang yang saya jumpai sangat ramah dan terbuka,” tutur pria berkebangsaan Kanada ini.

Sayangnya, Nick tidak berani memastikan Surabaya akan menjadi tuan rumah pada 2020. Sebab, pemilihan tuan rumah akan melewati sejumlah tahapan di IPSC. “Surabaya kota yang baik, sayang saya tidak punya jawabannya sekarang. Tentu, Surabaya bisa mengikuti proses biding menjadi tuan rumah dan kesempatannya sangat terbuka lebar,” imbuhnya.

Indonesia Incar Beberapa Kategori

AAHC 2016 akan diikuti oleh 500 peserta dari 23 negara. Sejauh ini persiapan cukup lancar dan berjalan sesuai agenda. “Per hari ini (25/8) sudah ada 30 peserta yang tiba di Surabaya. Sejauh ini tidak ada hambatan berarti. Semuanya berjalan cukup lancar,” kata Ketua Panitia AAHC 2016 Leo Afandi saat jumpa pers di balai kota, Kamis (25/8).

Dijelaskan Leo, para peserta AAHC 2016 akan bersaing di lima kategori, antara lain open, standard, production, classic dan revolver. Mereka akan memperebutkan hadiah berupa piala dan trophy.

Beberapa penembak dengan prestasi mentereng dipastikan berkompetisi di AAHC 2016. Kendati demikian, tim Indonesia tetap optimistis menatap kompetisi yang digelar rutin tiap tiga tahun sekali ini.

Ketua PB Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) Bambang Trihatmodjo menuturkan, pihaknya menargetkan dua kategori yakni standard dan revolver. Pasalnya, Indonesia pernah menorehkan prestasi juara 2 tingkat junior pada kejuaraan menembak dunia level 5 di Amerika Serikat tahun lalu.

“Kalau yang sempat dapat nomor juara 2 junior di Amerika Serikat itu ada di kategori standard. Di kategori revolver, kita juga punya penembak level dunia,” terang Bambang. Sedangkan untuk kategori open, production, dan classic, PB Perbakin membidik posisi tiga besar. (arf)

Command Center-Pelayanan Terpadu di Siola Diplot Jadi Percontohan Nasional



KABARPROGRESIF.COM : (Surabaya) Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk merespons cepat aduan darurat dari masyarakat melalui posko siaga Command Center Surabaya yang ada di lantai II gedung eks Siola, mendapatkan apresiasi positif dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Men PAN-RB), Asman Abnur.

Apresiasi positif itu disampaikan Menteri PAN RB setelah melihat langsung ruangan Command Center bersama Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Kamis (25/8/2016). Turut serta dalam kunjungan mendadak ke Command Center tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbang Linmas), Soemarno.

Begitu masuk ke ruangan Command Center, wali kota lantas menjalankan prosedur penanganan dari pusat kendali yang baru diresmikan pada akhir Juli lalu tersebut. Wali kota juga menjelaskan fungsi Command Center selain menerima aduan darurat dari masyarakat melalui nomor call center 112, juga memantau kondisi kota melalui kamera CCTV yang tervisualisasi lewat visual di layar monitor berukuran besar, termasuk juga mamantau ketinggian air sungai. Wali kota juga menjelaskan bahwa Command Center terhubung dengan beberapa instansi terkait seperti PMI, Basarnas dan juga kepolisian.

Begitu mendengar penjelasan dari wali kota, Menteri PAN RB langsung berujar singkat.

“Oke bu wali, top,” ujarnya.

Selain menjelaskan fungsi dari Command Center, wali kota juga menjelaskan tentang pelayanan terpadu yang ada di Siola. Yakni beberapa dinas dan instansi yang terkait pelayanan publik dan perizinan seperti Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Unit Pelayananan Terpadu Satu Atap (UPTSA), semuanya ditempatkan dalam satu lokasi. Tujuannya demi memudahkan pelayanan kepada publik. “Dinas-dinas yang terkait pelayanan publik ada di sini. Kami ingin siapkan pelayanan di sini hidup (siaga) sampai pagi. Karena tidak semua orang bisa mengurus pelayanan pada pagi-sore karena harus bekerja,” sambung wali kota.

Kepada wartawan, Menteri PAN RB menegaskan akan menjadikan Command Center Surabaya dan juga pelayanan terpadu di Siola yang diterapkan oleh Pemkot Surabaya, bisa menjadi contoh (role model) bagi kota-kota di Indonesia. “Jadi sekarang tugas saya tidak berat lagi karena sudah ada contoh dari Surabaya. Nanti tinggal diteruskan ke daerah-daerah lain. Agar manfaat yang dirasakan warga Surabaya, juga bisa dirasakan masyarakat di daerah lain,” sambung pria yang pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PAN ini. 

Wali Kota Tri Rismaharini mengaku senang inovasi pelayanan publik dan merespons aduan darurat masyarakat yang diterapkan oleh Pemkot Surabaya, bisa menjadi percontohan nasional. “Saya senang karena pak menteri menghargai kerja keras kami. Dan saya juga senang bila banyak daerah yang bagus (pelayanan publik) nya. Itu artinya Indonesia juga akan bagus,” sambung wali kota yang pernah menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini.

Sejak diresmikan wali kota pada akhir Juli 2016 lalu, Command Center telah efektif melayani aduan darurat masyarakat melalui nomor pengaduan 112. Nomor tersebut bisa diakses 24 jam dan bebas pulsa. Ketika warga menelepon ke nomor 112 dan menyampaikan laporannya, petugas segera menghubungi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk segera menindaklanjuti laporan itu dengan menerjunkan petugas ke lokasi.

Pusat Kendali ini juga bisa memangkas alur birokrasi penanganan bencana. Bila selama ini, dinas yang menangani masalah darurat seperti Dinas Kebakaran atau Bakesbang Linmas ataupun memiliki posko sendiri-sendiri. Dengan Command Center ini, SKPD tersebut akan disinergikan dalam satu ruangan untuk memantau kondisi kota selama 24 jam dan menerima laporan masyarakat.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Antiek Sugiharti mengatakan, untuk layanan call center, saat ini sudah bisa dihubungi lewat telepon rumah dan telpon seluler (handphone). Namun, untuk lewat handphone, hanya bisa disambungkan lewat provider Telkomsel Group saja. Ke depan, nomor 112 bisa dikontak semua provider. “Ini sedang proses integrasi karena sistemnya beda-beda. Kami sudah rapat dengan Kementrian (KOminfo) dan provider untuk pengintegrasian ini,” jelas Antiek.(arf)

Wali Kota Surabaya Panen Padi Perdana Hasil Urban Farming



KABARPROGRESIF.COM : (Surabaya) Pemandangan berbeda ditemukan di halaman Balai Kota Surabaya pagi ini (25/8). Wali kota Surabaya Tri Rismaharini bersama jajarannya terlihat sibuk memanen padi hasil urban farming yang ditempatkan di balkon lantai dua Balai Kota Surabaya. Sebanyak dua boks fiber persegi berwarna hijau dengan ukuran 2,5 meter x 2,5 meter berisi padi varietas memberamo ditanam sejak awal 2016, dan dipanen pagi tadi.

Sebelumnya, Risma (sapaan akrab walikota) telah mengganti tanaman hias dengan tanaman produktif di setiap sudut perkantoran. Kali ini, Risma memulai inovasi dengan menanam di atap balkon gedung bertingkat. Salah satunya dengan menanam padi dengan menggunakan media boks fiber, dan ditanam di area Perkantoran Balai Kota Surabaya. "Sekarang saya kembangkan dalam bentuk makanan pokok, padi. Dan ternyata bisa," kata Risma seusai panen padi perdana, Kamis (25/8) pagi.

Walikota perempuan pertama dalam sejarah pemerintahan Kota Surabaya inipun optimis dapat menekan global warming, dan minimnya lahan bercocok tanam di masa sekarang dengan metode urban farming. Alhasil, setelah mengkaji dan mendalami, mulai dari konsep, sistem penanaman hingga konstruksi bangunan, terwujudlah penanam padi sebagai percontohan awal di Kota Surabaya.

"Ini merupakan salah satu contoh yang diberikan kepada warga, karena saya beberapa kali ikut seminar, banyak yang ngomong soal food security atau keamanan pangan. Itu akan jadi masalah karena dampak global warming ini, cuaca tidak bisa di prediksi. Nah apapun cara yang bisa dilakukan supaya pangan bisa tahan, makanan kita siap, maka kita harus lakukan.
Nah saya berikan contoh seperti ini di Balai Kota ini, dengan kita tidak punya lahan, kita bisa tanam," jelasnya.

Risma menambahkan, dengan metode tanam seperti ini, teknis secara keseluruhan dalam menanam dengan metode urban farming hampir sama dengan menanam menggunakan media tanah pada umumnya. Hanya saja, media sebagai tempat menampung tanah kali ini hanya terbuat dari boks fiber. "Sebenernya sama, medianya tanah, hanya tempatnya di atas. Kalau dulu sayur, masyarakat sudah bisa kembangkan. Sekarang, masyarakat sudah bisa menamam padi melalui program urban farming," terang Risma.

Selain menggunakan konsep urban farming, mantan Kepala Bappeko Surabaya ini, juga sedang mempelajari konsep menanam dengan hidroponik. Sebab, Risma menilai, keterbatasan dalam memiliki lahan bukanlah suatu alasan untuk menanam, terlebih dalam menekan global warming yang saat ini terjadi. "Saya juga minta kembangkan tanaman hidroponik. Karena dengan keterbatasan lahan yang ada, kita tetep bisa mendapatkan akses makanan," himbaunya.

tak hanya mengembangkan metode tanam di halaman Balai Kota Surabaya, kali ini Risma juga sedang mengembangkan metode tanam tersebut di semua perkantoran SKPD Pemkot Surabaya. Hal ini, merupakan salah satu upaya dalam menekan global warming dengan dimulai dari lingkup Pemkot Surabaya. "Sekarang ini, semua gedungnya lantai atas datar, sekarang kita bangun gedung dua lantai dengan kondisi atap yang datar. Harapannya, bisa digunakan untuk tanam tanaman seperti ini," ujarnya.

Selain itu, bila masyarakat ingin mengembangkan metode tanam dengan mudah namun kesulitan bahan baku, Risma dengan senang akan membantu melalui Dinas Pertanian Kota Surabaya. Harapannya, selain bisa menekan global warming, juga bisa menekan angka inflasi yang tinggi disektor pertanian khususnya sayur di Kota Pahlawan. Masyarakat yang menginginkan bahan baku, tidak harus dari kelompok melainkan juga bisa dari kelompok. Yang kemudian dikoordinir melalui RT/RW setempat.

"Kalau seperti ini, harus masyarakat yang menginginkan, kita tidak bisa yang memaksakan. Kalau dipaksakan, mana mungkin bisa. Kalau masyarakat yang mengajukan itu berarti bisa. Karena inflasi tertinggi di Surabaya adalah sayur. Oleh karena itu kita atasi dengan tanam sendiri, maka insyaallah food security bisa terjaga, dan inflasi juga bisa ditekan karena itu," tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya Joestamadji menambahkan,  rencana kedepannya sesuai permintaan walikota, Dinas Pertanian akan menambahkan empat boks fiber sebagai media tanam lagi di balkon Kantor Balai Kota Surabaya. Sebab, setelah diuji oleh Dinas Cipta Karya, konstruksi bangunan kuat menyanggah bebaban hingga ratusan ton. "Setiap satu boks mempunyai beban sekitar 10 ton, dengan ketebalan tanah 40-50 sentimeter. Sehingga, nanti dimungkinkan akan menambahkan empat boks lagi," jelasnya.

Tidak hanya itu, perawatan yang mudah, tidak akan menyulitkan masyarakat bila ingin menerapkan metode tanam dengan konsep urban farming ini. Sebab, pada hakikatnya semua perawatan hampir sama dengan penanama padi di sawah pada umumnya. "Enggak, ini mudah sekali. Yang penting cukup sinar matahari. Dan perawatan anti hama. Tapi Alhamdulillah, kemarin ini kedua boks tidak terkena hama dan akhirnya bisa dipanen sekarang," tutupnya. (arf)