Terus Kobarkan Semangat Perjuangan Arek-arek Suroboyo 10 Nopember 1945 untuk memberantas Korupsi, Terorisme dan Penyalahgunaan Narkoba

RISMA MENGAKU DICECAR 14 PERTANYAAN

Sebagai saksi pelapor kasus dugaan korupsi YKP Surabaya dan PT YEKAPE, Walikota Risma harus menjawab 14 pertanyaan Penyidik Kejati Jatim.

250 PELAJAR SLTA IKUTI PENATARAN BELA NEGARA

Penataran di Dodik Bela Negara Rindam V/Brawijaya bertujuan membina generasi muda yang berkepribadian disiplin dan berjiwa nasionalisme yang tinggi.

PRAJURIT KINI: BERPIKIR GLOBAL, BERTINDAK LOKAL

Selain prajurit di Satuan Yonarmed 12/Divif-2/Kostrad diwajibkan untuk terampil berbahasa Inggris, juga diberikan kursus gratis untuk para pelajar di Kabupaten Ngawi.

JL YOS SUDARSO DITUTUP BULAN DEPAN

Penutupan separuh Jl. Yos Sudarso untuk pengerjaan proyek Alun-alun Surabaya yang direncanakan pada 20-24 Juni 2019, diundur menjadi 1 – 4 Juni 2019 lantaran bertepatan dengan kegiatan lain.

ALAT BUKTI KUAT, KASUS YKP SEGERA EKSPOSE

Kasus mega korupsi di YKP semakin terang benderang, Kejati Jatim segera ekspose untuk menentukan siapa saja pihak yang dapat dijadikan tersangka.

PEMPROV JATIM AJAK LDII PERKUAT PERSAUDARAAN

Pasca Pemilu 2019 Pemprov Jatim mengajak LDII Jawa Timur untuk memperkuat jalinan Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Ukhuwah Wathoniyah (Persaudaraan Bangsa).

KEJATI JATIM KEMBALI BUKA PENYIDIKAN P2SEM

Bukan diabaikan, tetapi karena banyak kendala naka diperlukan waktu yang cukup agar penyidikan kasus P2SEM bisa berjalan dengan lancar dan profesional.

SURABAYA BAKAL PUNYA ALUN-ALUN

Kota Surabaya bakal segera memiliki alun-alun 2 lantai yang berpusat di tengah kota, yaitu kompleks Balai Pemuda dengan Jalan Yos Sudarso sisi timur.

Senin, 14 Mei 2012

PT Telkom Bantah Proyek Internet RT/RW ‘Mengada-ada’

KABARPROGRESIF.COM : (Surabaya) Proyek pengadaan koneksi internet bagi ketua RT/RW se-Surabaya tahun 2010 senilai Rp 6,9 miliar, yang digagas Pemkot dengan PT Telkom Indonesia Divre Jatim meninggalkan masalah.

Kendati begitu, Pemkot Surabaya maupun Telkom tak bergeming dan lepas tangan, ketika proyek tersebut adalan Instalasi Koneksi Internet tersebut menuai kegagalan.

Pelangsanaan pemasangan modem internet ini pun tak sesuai dengan target yang ditentukan. Bahkan pemasangan internet itu, PT Telkom telah dua kali melanggar adendum kontrak kerja. Tetapi, lantaran ‘diduga’ telah terjadi ‘kongkalikong’, Pemkot Surabaya selaku pengguna anggaran tak memberikan sangsi apapun kepada rekanannya yang gagal menyelesaikan proyek secara tuntas itu.

Sesuai target yang ditentukan dalam adendum perpanjangan kontrak kerja, Telkom berkewajiban memasang sebanyak 10888 node (titik sambungan) internet. Namun realisasinya, Telkom hanya  bisa menyelesaikan sekitar 58 persen atau sebanyak 6009 pemasangan Internet RT/RW saja.

Padahal, pelaksanaan proyek tersebut telah dilakukan perpanjangan kontrak kerja. Pada kontrak pertama tanggal 19 Juli 2011 sampai 19 Agustus 2011, telkom hanya bisa menyelesaian sekitar 13 persen dari total jumlah yang ada. Karena tidak memenuhi target, akhirnya terjadi adendum perpanjangan kontrak kerja lagi hingga 19 September 2011.

Terkait soal itu, Head of Corporate Communication and Affair PT Telkom Eddy Kurnia dalam pers rilisnya, Senin (9/1/2012) lalu bersikukuh bahwa proyek pengadaan modem di Surabaya tidak ada masalah. Bahkan, proyek tersebut sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.

Eddy juga mengakui tidak tercapainya target pelaksanaan instalansi karena adanya berbagai kendala di lapangan, yakni kesiapan RT dan RW untuk memanfaatkan Jaringan internet  maka waktu yang disepakati sebelumnya, yaitu selama satu bulan dinilai tidak mencukupi. Pemkot Surabaya kemudian menyetujui perpanjangan waktu satu bulan sehingga batas waktu penyelesaian instalasi menjadi  19 September 2011.
“Hingga batas waktu 19 September 2011 tersebut, Internet yang berhasil diinstalasi sebanyak 6.009 titik,” sebutnya.

Ia juga membeberkan beberapa kendala dalam pelaksanaan proyek ini. Secara umum, lanjutnya, beberapa kendala adalah sudah menggunakan Speedy sebanyak 5 persen. Kemudian, tidak bersedia dipasang Internet sebanyak 38 persen, rumah kosong sebanyak 20 persen, Belum memiliki komputer sebanyak 12 persen, Dialihkan ke pihak lain sebanyak  12 persen dan kendala lain-lain sebanyak 13 persen

Menanggapi pelaksanaan proyek internet RT/RW yang tak sesusi target ini, Koordinator Forum Masyarakat Anti Korupsi Jawa Timur, Ismet Rama menegaskan bahwa PT Telkom hanya mencari-cari alasan.

Menurutnya, bila Telkom mengayebut 20 persen rumah ketua RT/RW adalah rumah kosong, merupakan kebohongan saja. “Itu alasan yang tak masuk diakal. Kalau disebut 20 persen rumah kosong, berarti ribuan ketua RT/RW di Surabaya tak memiliki alamat jelas. Silahkan dibuktikan dilapangan,” tegas Ismet, Selasa Malam (21/2/2012).

Dipaparkan Ismet, saat ini dilapangan banyak ketua RT yang sebelumnya didaftar akan dipasang modem, namun sampai saat ini  rumahnya tidak dipasang modem. Sebaliknya, RT/RW yang menolak, malah dipasangi modem.

“Ada salahsatu kasus di Sidotopo, seorang ketua RT yang tidak didipasang internet tapi dia ditagih bayar bulanan. Kasus-kasus di lapangan ini merupakan bukti bahwa Telkom berbohong bila menyebut kegagalan memenuhi target itu kerana ada ribuan rumah ketua RT/RW se surabaya kosong,”ungkapnya.
“Selayaknya kejaksaan memeriksa kasus ini,”tukasnya. (arf)