Atasi Banjir, DSDABM Surabaya Siapkan Skema Hentikan Tumpuan Beban Air di Avur Wonorejo
Surabaya - KABARPROGRESIF.COM Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya serius mengatasi pengalihan aliran air yang selama ini mengakibatkan adanya banjir di sejumlah titik di kota pahlawan.
Apalagi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan batas waktu pengalihan aliran air untuk mengatasi banjir dapat rampung pada bulan Oktober 2026 mendatang.
Kepala Bidang (Kabid) Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita menjelaskan secara teknis akan dilakukan skema pengalihan kompas aliran air untuk memecah beban hulu yang selama ini menumpuk di sisi timur.
Menurutnya, penanganan genangan di kawasan Ketintang, Gayungsari, hingga Karah merupakan permasalahan yang kompleks dan memerlukan penanganan bertahap.
Ia menjelaskan bahwa masalah utama selama ini adalah beban air dari arah Barat (kawasan tol) yang seluruhnya bermuara ke saluran Avur Wonorejo.
"Banjir ini kompleks, tidak bisa selesai dalam satu tahun berjalan karena ada tahapan-tahapannya. Problem utamanya adalah beban air dari barat atau tol semuanya lari ke arah Timur, ke Wonorejo," kata Adi Gunita, Selasa 28 April 2026.
Untuk menjalankan instruksi Wali Kota Eri Cahyadi, DSDABM akan melakukan pengalihan arus secara signifikan.
Skema yang disiapkan adalah menghentikan tumpuan beban air di Avur Wonorejo dengan membuat sodetan langsung ke arah Selatan.
"Rencananya, beban yang ada di Avur Wonorejo kita hentikan, lalu kita potong langsung ke arah Selatan menuju Sungai Kebon Agung. Dengan begitu, volume air yang lari ke saluran Prapen akan berkurang drastis," tambahnya.
Langkah ini diambil karena kapasitas saluran menuju Prapen semakin mengecil di sisi hilir.
Jika limpahan air dari arah Barat tidak dipotong, maka saluran tersebut tidak akan mampu menampung debit air saat intensitas hujan tinggi.
Pihaknya optimis, skema pembagian beban aliran air ini akan berdampak langsung pada beberapa titik rawan genangan, di antaranya kawasan Ketintang PTT, Karah hingga Gayungsari.
"Katakanlah beban air itu nilainya 100, kita kurangi persentasenya agar tidak lari ke hilir semua. Kita bagi beban alirannya ke arah Selatan sehingga beban air bisa terpecah dan tidak menumpuk di wilayah Wonocolo, Margorejo, hingga Rungkut saja,” pungkasnya.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar