Soal Sesar Aktif di Surabaya, Begini Kata BMKG


Sidoarjo - KABARPROGRESIF.COM Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya, Stasiun Geofisika BMKG Kelas I Pasuruan, Rozikan menyatakan bahwa sesar di Kota Surabaya bukan merupakan patahan baru. 

Berdasarkan hasil pemutakhiran data geologi, geofisika, dan geodesi yang dipublikasikan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) di tahun 2017 dan 2024, bahwa patahan tersebut merupakan struktur geologi purba yang teridentifikasi kembali sebagai sesar aktif. 

“Jadi bukan yang terbentuk baru. Kemudian di Surabaya ini ada beberapa ya, ada sesar Kendeng yaitu jalur patahan yang melintasi Kota Surabaya, ada segmen Surabaya dan Waru,” kata Rozikan saat ditemui di Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Rabu 16 September 2026.

Rozikan mengungkapkan, kedua segmen ini merupakan dari zona lipatan dan patahan Kendeng atau trust zone yang memanjang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. 

Berdasarkan peta PuSGen tahun 2024, kekuatan segmen Surabaya mencapai 6,7 magnitudo, sedangkan Waru 6,8 magnitudo. 

Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan, bahwa pergerakan masing-masing segmen ini berbeda setiap tahunnya. 

Segmen Surabaya mengalami pergerakan 0,5 milimeter, sedangkan Waru 1 milimeter per tahun. 

“Efeknya apa kalau terjadi magnitudo maksimum? Guncangan bisa mencapai intensitas 6 hingga 8 MMI (Modified Mercalli Intensity). Skala ini dapat memicu kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan tahan gempa. Serta kerusakan berat hingga roboh pada bangunan biasa atau tanpa struktur,” jelasnya. 

Rozikan menerangkan, beberapa langkah yang perlu diantisipasi masyarakat ketika gempa terjadi, salah satunya yakni melakukan kroscek dan tidak mudah termakan isu hoax yang tidak jelas sumbernya. 

Selanjutnya, masyarakat bisa mengakses informasi resmi dari aplikasi Info BMKG atau Pemkot Surabaya. 

Selain itu, masyarakat diimbau untuk aktif mencari edukasi atau penyelamatan diri dan memahami prinsip penyelamatan bencana. 

“Tetap tenang, kemudian pahami prinsip seperti drop, cover, hold on, seperti menunduk, kemudian melindungi kepala, masuk ke kolong meja dan berpegangan di situ. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah kenali akses evakuasi, di mana kita berada tentunya sudah ada rambu evakuasi, jalur evakuasi dan titik kumpul. Nah, kemudian lokasi titik kumpul itulah yang menjadi tujuan akhir dari kita apabila terjadi bencana,” pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengadilan Bebaskan Promotor EO Konser Artis DJ Dimitri Vegas dan Like Mike Dari Tudingan Penipuan

Bareskrim Ajukan Red Notice Pak Cik, Pemasok Sabu Jaringan The Doctor

Lewat Aplikasi SIGNAL, Bayar Pajak Kendaraan Kini Lebih Mudah